Penyebab Anak Tidak Jujur yang Wajib Diketahui oleh Orang Tua

Penyebab Anak Tidak Jujur yang Wajib Diketahui oleh Orang Tua
Ilustrasi Anak Sedang Bohong.

JAKARTA — Banyak orang tua merasa kebingungan ketika buah hati mereka mendadak mulai menyembunyikan suatu perkara atau menyodorkan argumentasi yang tidak selaras dengan fakta riil.

Padahal, pada periode sebelumnya sang anak dikenal memiliki kepribadian yang sangat terbuka sekaligus menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam berinteraksi.

Dilema emosional ini kerap kali memantik rasa waswas di benak ayah dan ibu bahwa sang anak tengah memupuk habit buruk yang berpotensi menetap hingga mereka menginjak usia dewasa.

Kendati demikian, tidak seluruh tindakan tidak jujur yang dilakukan oleh anak berakar dari iktikad murni untuk mengelabui ataupun melakukan tindakan destruktif.

Pada aneka kasus, manifestasi perilaku menyimpang tersebut justru menjadi bagian dari fase transisi proses perkembangan psikologis anak.

Oleh sebab itu, para orang tua sangat diwajibkan untuk memetakan latar belakang alasan di balik tindakan tersebut agar tidak gegabah dalam menyematkan stigma negatif pada anak.

Melansir data dari Child Mind Institute, terdapat rentetan pemicu paling mendasar yang memengaruhi anak mulai berani berkata tidak jujur yang patut dipahami oleh figur orang tua.

Pertama, adanya hasrat personal untuk menjajaki ragam aksi perilaku baru sebagai bagian dari pematangan instrumen belajar, termasuk di dalamnya mencoba berbohong.

Mereka menyimpan rasa penasaran yang tinggi mengenai reaksi apa yang bakal timbul sekiranya menyuarakan informasi yang tidak sesuai dengan kebenaran di lapangan.

Kedua, dorongan kuat untuk mendongkrak rasa percaya diri dengan cara melebih-lebihkan narasi cerita agar dinilai lebih cerdas, berbakat, ataupun populer di mata kelompok bermainnya.

Ketiga, upaya taktis untuk mengalihkan perhatian lingkungan dari masalah internal atau tekanan emosional berat yang tengah menggelayuti benak mereka.

Kebohongan dengan tipikal defensif seperti ini biasanya lahir karena anak memikul keengganan untuk memicu rasa cemas pada orang tua atau enggan bertindak selaku beban bagi sesama.

Keempat, kebiasaan buruk menyuarakan ucapan secara spontan sebelum mencerna secara jernih isi pertanyaan yang diajukan oleh lawan bicaranya.

Kondisi impulsif ini jamak ditemui pada anak yang mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), sehingga penanganan yang tepat memerlukan latihan jeda berpikir serta bantuan jadwal harian.

Kelima, memproduksi kebohongan skala kecil (white lies) demi menjaga perasaan orang lain, misalnya dengan melayangkan pujian semu atas pemberian hadiah yang kurang disukainya.

Keenam, timbulnya kecemasan yang masif untuk melarikan diri dari sanksi ataupun konsekuensi hukuman berat pasca-melakukan sebuah kekeliruan fatal di lingkungan domestik.

Ketujuh, pemanfaatan muslihat ketidakjujuran sebagai instrumen instan untuk meraup keuntungan atau pemenuhan keinginan pribadi tanpa harus menuntaskan tanggung jawab utama terlebih dahulu.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index