JAKARTA — Emiten infrastruktur menara telekomunikasi PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel menyatakan bahwa agenda konsolidasi yang terjadi di tingkat operator seluler justru mampu mendongkrak capaian tenancy ratio atau rasio sewaan menara perseroan.
Direktur MTEL Agus Winarno menjabarkan dinamika seputar penggabungan usaha di sektor operator telekomunikasi yang pada saat ini menyisakan tiga pemain utama di pasar nasional.
Menurut penilaiannya, integrasi tersebut membawa dampak positif bagi rencana ekspansi atau roll out seluruh perusahaan operator karena mekanisme kerja operasionalnya akan menjadi jauh lebih efisien.
“Beruntungnya MTEL ini juga didukung distribusi power kami yang dominan ada di luar Jawa dan itu menjadi pusat-pusat pertumbuhan mereka,” tutur Agus Winarno dalam agenda paparan publik MTEL, Selasa (30/6/2026).
Di samping keunggulan wilayah operasional, Agus Winarno mengimbuhkan bahwa pihak MTEL juga dipersenjatai oleh instrumen marketing analytics yang memiliki tingkat akurasi tinggi.
Fasilitas digital canggih tersebut dimanfaatkan manajemen guna menyodorkan usulan rekomendasi lokasi atau koordinat menara mana saja yang dinilai paling prospektif bagi kebutuhan ekspansi para operator tersebut.
“Dari XLSMART, justru kami bisa mendapatkan potensi yang besar, sehingga kalau kami lihat tenancy ratio kami di tengah konsolidasi yang sebesar itu masih bertumbuh,” ujarnya.
Merujuk pada publikasi laporan keuangan di sepanjang tahun buku 2025, emiten berkode saham MTEL ini sukses menorehkan kenaikan rasio sewaan menara ke level 1,57x, yang merefleksikan optimalisasi produktivitas atas aset internalnya.
Selama periode tahun buku 2025, manajemen Mitratel terpantau sukses membukukan total pendapatan usaha senilai Rp9,53 triliun dengan perolehan EBITDA bertengger pada angka Rp7,83 triliun.
Perusahaan menara telekomunikasi ini juga mengantongi keuntungan bersih sebesar Rp2,12 triliun, yang ditopang kokoh oleh skema model bisnis berbasis recurring revenue, margin laba tinggi, serta perputaran arus kas operasional yang sehat.
Pihak MTEL turut membeberkan bahwa lini bisnis jaringan fiber optik milik perseroan mencatatkan penambahan bentangan kabel sepanjang 6.160 km secara organik, sehingga total jangkauannya kini menembus 57.199 km.
Selaras dengan masifnya realisasi ekspansi tersebut, indikator Fiber Billable Length milik perusahaan ikut terkerek naik mencapai posisi 70.618 km.
Sinyal positif ini pada akhirnya menjadi motor penggerak utama bagi laju pertumbuhan pendapatan pada segmen bisnis fiber optik Mitratel hingga melesat sebesar 18,1 persen jika dibandingkan dengan pencapaian di tahun sebelumnya.