Prabowo Terima Sorban Palestina di Peringatan 100 Tahun Gontor, Serukan Bela Palestina

Sabtu, 19 September 2026 | 12:15:00 WIB
Prabowo Terima Sorban Palestina di Peringatan 100 Tahun Gontor, Serukan Bela Palestina

BERITA360.ID — Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfatah A.K. Al-Sattari menyerahkan sorbannya kepada Presiden Prabowo Subianto di sela peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu (19/9/2026). Momen itu berlangsung sebelum Prabowo menyampaikan pidato yang menyoroti kondisi warga Palestina yang terus menjadi sasaran pembantaian dan pengeboman. Prabowo menyebut Indonesia seolah kurang berdaya membantu, lalu menyerukan penguatan bangsa sebagai jalan untuk bisa ikut membela yang tertindas.

Abdalfatah berdiri saat namanya disebut. Ia lalu menunjukkan sorban dan menghampiri Prabowo untuk menyerahkannya. Prabowo menerima kalungan sorban Palestina itu.

Sorban Palestina dan Pidato yang Menyusul

Setelah menerima sorban, Prabowo melanjutkan sapaannya kepada para tamu. Ia mengaku teringat kondisi masyarakat Palestina yang menurutnya terus diserang.

"Saya minta maaf, tadi saya ingat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus. Dan kita seolah-olah kurang berdaya untuk membantu mereka," kata Prabowo.

Pernyataan itu disampaikan di hadapan kiai, ulama, pendidik, dan santri yang hadir. Prabowo menilai kondisi Palestina harus menjadi pemicu bagi Indonesia untuk memperkuat diri.

Ajakan Belajar dan Membangun Bangsa yang Kuat

Prabowo mengajak para kiai, ulama, pendidik, dan santri mendorong generasi muda belajar dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, kehendak untuk belajar dan membangun bangsa harus dipicu oleh kesadaran akan ancaman dari luar.

"Ini saya kira harus mendorong dan memicu suatu kehendak, kehendak untuk belajar sungguh-sungguh, kehendak untuk membangun bangsa Indonesia yang kuat karena bangsa yang tidak kuat, bangsa itu akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa lain," ujarnya.

Ia menegaskan bangsa Indonesia harus belajar dari sejarah. Tujuannya agar tidak ada pihak yang melihat kelemahan dan kekurangan bangsa ini sebagai celah.

"Saya berharap dari generasi penerus, dari ustaz-ustaz, dari ulama-ulama untuk bisa membangunkan keberanian untuk belajar dari kelemahan-kelemahan kita sendiri, kekurangan-kekurangan kita sendiri," ujar Prabowo.

Belajar dari Sejarah Penjajahan

Prabowo mengenang masa penjajahan yang dialami Indonesia. Ia menyebut pendahulu bangsa berjuang melawan penjajah, tetapi cukup lama berada di bawah kekuasaan bangsa lain.

"Kita pernah dijajah oleh bangsa lain. Itu kenyataan yang pahit. Ya, bapak-bapak kita, eyang-eyang kita, kakek-kakek kita, ya, pendahulu-pendahulu kita ya berjuang, ya melawan, tapi cukup lama kita di bawah telapak kaki bangsa lain. Ini pahit, tapi kita harus berani mengakui, dan kita harus belajar dari situ, dan kita harus bertekad jangan sekali-sekali kita akan dijajah kembali oleh siapa pun!" katanya.

Dari refleksi sejarah itu, Prabowo menegaskan pentingnya kekuatan bangsa. Menurutnya, hanya bangsa yang kuat yang bisa membantu bangsa lain yang tertindas.

"Kita harus kuat, karena kita dengan kekuatan, kalau kita kuat, kita bisa bantu saudara-saudara kita yang ditindas atau tertindas bangsa lain, kalau kita tidak punya kekuatan bagaimana kita membantu," tuturnya.

Peringatan 100 tahun Gontor menjadi forum yang mempertemukan sejumlah duta besar negara sahabat. Selain Duta Besar Palestina, Prabowo dalam sambutannya juga menyapa Duta Besar Suriah dan Duta Besar Yaman yang hadir.

Terkini