BERITA360.ID — Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menilai pembangunan konektivitas nasional butuh arsitektur pembiayaan jangka panjang yang tak terikat siklus anggaran tahunan. Dalam diskusi kebangsaan di Kompleks Parlemen, ia menyebut APBN, BUMN, hingga skema KPBU harus bergerak sebagai satu ekosistem pendanaan.
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menegaskan pembangunan sistem perhubungan nasional memerlukan pembiayaan yang melampaui siklus satu tahun anggaran. Pernyataan itu disampaikan dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk "Konektivitas, Teknologi, dan Mobilitas Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045" di Ruang Delegasi Lantai 2, Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen RI, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9).
Forum tersebut mempertemukan pemerintah, operator transportasi publik, dunia usaha, akademisi, praktisi, hingga perwakilan generasi muda. Pria yang akrab disapa Ibas itu hadir sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI.
Pembiayaan Multiyears Jadi Syarat Utama
Menurut Ibas, tantangan terbesar pembangunan transportasi bukan sekadar menyiapkan infrastruktur baru. Persoalan yang lebih mendasar adalah menciptakan arsitektur pembiayaan jangka panjang agar pembangunan konektivitas bisa berjalan konsisten.
"Kalau kita serius membangun konektivitas menuju 2045, kita tidak bisa berpikir hanya dalam siklus satu tahun anggaran. Kita membutuhkan pembiayaan multiyears," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).
Ia memposisikan APBN dan APBD sebagai pemicu, bukan satu-satunya sumber dana. BUMN, skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), investasi swasta, serta sumber pembiayaan pembangunan lain disebutnya perlu masuk ke dalam ekosistem pendanaan konektivitas.
Ukuran keberhasilan pun bukan pada besarnya anggaran yang digelontorkan. Ibas menekankan setiap rupiah yang diinvestasikan harus menghasilkan nilai ekonomi dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dari Proyek ke Sistem Terintegrasi
Ibas menyoroti cara pandang pembangunan infrastruktur yang masih berorientasi proyek. Ia mendorong pergeseran menuju pendekatan berbasis sistem, di mana setiap moda transportasi saling terhubung.
"Bukan hanya bertanya, berapa kilometer jalan yang kita bangun? Tetapi berapa waktu yang kita hemat untuk rakyat," katanya.
Pola pikir serupa ia terapkan pada pelabuhan. Keberhasilan tidak diukur dari jumlah pelabuhan yang dimiliki, melainkan dari kecepatan dan efisiensi pergerakan barang antarwilayah.
Ibas menegaskan jalan raya, kereta api, pelabuhan, dan bandara tidak boleh berdiri sendiri. "Semuanya harus menjadi satu sistem perhubungan nasional," tegasnya.
Integrasi antarmoda dinilai semakin penting untuk meningkatkan daya saing ekonomi, menekan biaya logistik, memangkas waktu tempuh, dan memperbaiki kualitas pelayanan publik.
Teknologi Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Pembelian
Transformasi teknologi menjadi bagian lain yang disorot Ibas. Ia menyebut era kecerdasan artifisial, kendaraan listrik, smart port, smart airport, digital logistics, dan intelligent transportation system membuka peluang peningkatan efisiensi mobilitas.
Namun, ia mengingatkan transformasi tidak boleh berhenti pada pembelian perangkat. "Kita jangan hanya membeli teknologinya. Kita harus membangun ekosistemnya," ujar Ibas.
Integrasi data, integrasi layanan, dan sinkronisasi kebijakan pusat-daerah disebutnya sebagai prasyarat. Tanpa itu, teknologi tidak akan menghasilkan layanan transportasi yang lebih mudah, cepat, dan efisien bagi masyarakat.
Ibas juga menekankan transformasi digital perlu berjalan seiring penguatan sumber daya manusia serta kesiapan institusi dan regulator.
Karakter Kepulauan dan Keterbatasan Fiskal
Sebagai negara kepulauan dengan wilayah luas, penduduk besar, dan pusat pertumbuhan yang tersebar, Indonesia membutuhkan konektivitas yang mampu menjembatani wilayah secara efektif. Ibas menyebut kondisi itu sebagai bagian strategis pembangunan nasional.
Kendati demikian, ia mengingatkan pembangunan konektivitas harus memperhitungkan keterbatasan sumber daya fiskal negara. Kebutuhan pembiayaan sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, pertahanan, energi, pangan, dan infrastruktur juga tidak bisa diabaikan.
Dalam kesempatan itu, Ibas menyampaikan duka cita atas berbagai musibah transportasi yang terjadi. Ia menilai keselamatan tetap menjadi fondasi utama pembangunan sistem perhubungan nasional.