Cara Menghadapi 4 Sikap Anak yang Memicu Rasa Bersalah Orang Tua

Cara Menghadapi 4 Sikap Anak yang Memicu Rasa Bersalah Orang Tua
Ilustrasi Orang Tua dan Anak.

JAKARTA - Menolak permintaan anak bukan hal yang gampang bagi orang tua. Situasi ini terasa kian pelik tatkala anak telah menginjak usia dewasa serta tengah berhadapan dengan beragam persoalan, mulai dari urusan pekerjaan, keuangan, hingga dinamika kehidupan pribadi. Dalam momen-momen tertentu, orang tua memang dituntut untuk berani mengambil sikap tegas.

Akan tetapi, respons yang muncul dari anak kerap kali justru memicu rasa bersalah, cemas, atau kebimbangan pada orang tua atas keputusan yang telah diambil. Psikolog Jeffrey Bernstein, Ph.D., dalam Psychology Today memaparkan bahwa orang tua pada dasarnya dapat mengulurkan bantuan emosional maupun finansial kepada anak dewasa. Kendati demikian, orang tua wajib menakar kembali apakah dukungan tersebut benar-benar bermanfaat atau malah makin menumbuhkan ketergantungan.

Menurut Bernstein, orang tua juga harus mampu membedakan antara memberi sokongan dan terus-menerus membebaskan anak dari jeratan masalahnya. Lantas, seperti apa saja tanggapan anak yang sanggup memicu rasa bersalah orang tua serta bagaimana langkah menghadapinya?

"Berarti Ayah dan Ibu tidak sayang saya"

Salah satu tanggapan yang kerap menyeruak tatkala permohonan anak ditolak adalah mengaitkannya dengan kadar kasih sayang orang tua.

Sebagai contoh, anak mengajukan permohonan bantuan dana. Orang tua lantas menolak lantaran menilai bantuan tersebut tak bakal menyelesaikan akar masalah anak dalam jangka panjang. Anak kemudian membalas dengan berujar, "Kalau Ayah dan Ibu sayang, pasti mau membantu." Pertanyaan serta ungkapan semacam ini dapat menyudutkan batin orang tua hingga akhirnya luluh dan mengubah keputusan, padahal sebelumnya telah mengantongi alasan yang kuat untuk menolak.

Dalam kondisi demikian, orang tua perlu memisahkan antara ungkapan rasa sayang dan ketegasan dalam pemenuhan tuntutan. Bernstein menganjurkan agar orang tua tetap mengekspresikan kasih sayang tanpa mengorbankan batasan yang telah ditetapkan. Singkatnya, orang tua bisa menegaskan bahwa rasa sayang itu tetap ada, tetapi bentuk bantuan yang diminta bukan hal yang bisa atau patut diberikan.

"Ayah dan Ibu kan punya uang, kenapa tidak membantu?"

Permintaan dukungan finansial kerap menjadi muara konflik antara orang tua dan anak dewasa. Anak bisa jadi menilai kondisi ekonomi orang tuanya tergolong mampu. Lantaran itu, saat permintaannya tidak dipenuhi, anak balik mempertanyakan dalih di balik penolakan tersebut.

Bernstein menerangkan bahwa besaran dana yang dimiliki tak sepatutnya dijadikan satu-satunya tolok ukur dalam mematok batasan finansial.

Ia menambahkan, saat orang tua beralih menggunakan alasan "kami tidak mampu", percakapan berisiko bergeser menjadi perdebatan mengenai kadar kemampuan finansial yang sebenarnya. Sebaliknya, orang tua cukup menegaskan bahwa kami tidak bersedia membiayai kebutuhan tersebut disertai alasan yang logis. Orang tua pun tetap dapat menawarkan alternatif dukungan lain, seperti diajak berdiskusi memikirkan opsi solutif atau mengurai hambatan keuangannya bersama-sama.

"Kalau begitu, jangan harap bertemu saya untuk sementara"

Keputusan menolak juga acap kali dibalas dengan ancaman untuk menarik diri dari interaksi. Bagi para orang tua, gertakan seperti "jangan harap bertemu saya" jelas terasa amat menyakitkan. Kepanikan akan retaknya hubungan dapat memicu ketidakterimaan batin hingga orang tua terdorong membatalkan keputusannya.

Meski begitu, orang tua sejatinya tak perlu dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan batasan atau menunjukkan kasih sayang.

Orang tua bisa memahami kekecewaan anak yang memerlukan ruang menyendiri tanpa harus goyah dari keputusan semula. Misal, orang tua dapat menyampaikan bahwa kami paham anak membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan kami tetap menyayanginya, tetapi keputusan atas masalah ini tidak dapat diganggu gugat. Cara ini menjaga komunikasi tetap sejuk tanpa menjadikan ancaman pemutusan hubungan sebagai alasan meloloskan permintaan.

"Orangtua orang lain saja membantu anaknya"

Langkah membandingkan dengan keluarga lain kerap dipakai untuk memicu rasa bersalah. Anak mungkin berdalih bahwa orang tua rekan atau kerabatnya bersedia mengulurkan bantuan. Secara tidak langsung, perbandingan ini menyudutkan orang tua seolah-olah tidak cukup peduli.

Padahal, tiap-tiap keluarga berdiri di atas kondisi finansial, prinsip, nilai, dan tata cara pendampingan yang tidak seragam. Oleh sebab itu, tolok ukur keluarga lain tidak perlu dijadikan acuan. Orang tua dapat membeberkan bahwa tiap keluarga punya pendekatan tersendiri dalam menyokong anak. Setiap keputusan dirumuskan berlandaskan kondisi serta pertimbangan matang dalam keluarga sendiri.

Tetap mendukung tanpa mengambil alih masalah anak

Bernstein menekankan pentingnya pergeseran peran orang tua, dari seorang "fixer" atau penuntas masalah menjadi sosok "coach" bagi anak dewasa. Sebatang kara "fixer" cenderung tergesa-gesa menyelesaikan persoalan, membentengi anak dari kekhilafan, dan menanggung seluruh akibatnya. Di lain sisi, seorang "coach" memilih setia mendengarkan, berempati, dan menyuntikkan semangat, tanpa perlu mengambil alih beban tanggung jawab anak.

"Tujuannya bukan berhenti peduli, tetapi berhenti memikul (semua persoalan anak)," tegas Bernstein.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index