Irlandia Kembali Boikot Eurovision 2027, Protes Kematian Warga Gaza

Irlandia Kembali Boikot Eurovision 2027, Protes Kematian Warga Gaza

BERITA360.ID — Irlandia memastikan diri absen dari Eurovision 2027, menolak tampil di kompetisi yang digelar di Burgas, Bulgaria, karena menilai pembunuhan warga Gaza terus berlangsung. Keputusan penyiar nasional RTÉ ini menjadikan Irlandia negara kedua yang mundur setelah Belanda, memperbesar tekanan politik atas keikutsertaan Israel.

RTÉ mengumumkan pemboikotan itu pada Kamis, menegaskan partisipasi Irlandia tidak bisa dibenarkan selama krisis kemanusiaan di Gaza berlanjut. Keputusan ini mengulang sikap yang sama seperti tahun sebelumnya.

Pada musim kompetisi lalu, lima negara menolak tampil sebagai bentuk protes atas keikutsertaan Israel. Selain Irlandia, ada Islandia, Belanda, Spanyol, dan Slovenia yang mengambil sikap serupa.

Alasan RTÉ: Nyawa Warga Sipil Gaza Terus Melayang

Dalam pernyataan resminya, RTÉ menyebut alasan pemboikotan bertumpu pada tingginya angka kematian warga sipil. "RTÉ merasa partisipasi Irlandia tidak dapat dibenarkan mengingat kehilangan nyawa yang mengerikan dan terus berlangsung di Gaza serta krisis kemanusiaan di sana yang terus menempatkan hidup begitu banyak warga sipil dalam risiko," demikian bunyi pernyataan lembaga penyiaran publik Irlandia itu.

Menurut otoritas Palestina, lebih dari 73.000 orang tewas dalam perang Israel di Gaza. Serangan itu dipicu aksi kelompok pejuang pimpinan Hamas yang menewaskan 1.200 orang di Israel selatan pada Oktober 2023.

Gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat menyerukan rekonstruksi wilayah tersebut. Namun serangan Israel masih berlanjut. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 1.369 warga Palestina tewas dan 4.627 luka sejak gencatan senjata rapuh itu berlaku 11 Oktober 2025.

Belanda Lebih Dulu Mundur, Sebut Eurovision Tak Lagi Netral

Penyiar Belanda, Avrotros, mengumumkan pemboikotan lebih awal bulan lalu. Lembaga itu menilai Eurovision "tidak lagi bisa dianggap netral, dengan negara peserta yang masih terlibat dalam konflik militer berskala besar".

Dengan mundurnya dua penyiar ini, kontes tahun depan dipastikan kembali diwarnai kontroversi soal Israel. Eurovision 2027 akan digelar di kota Burgas, Bulgaria, setelah negara itu menang pertama kali pada Mei.

Respons Penyelenggara: Hormati Keputusan, Berharap Irlandia Kembali

Direktur Eurovision, Martin Green, mengaku menyesal namun menghormati keputusan RTÉ. "Mereka tetap bagian berharga dari keluarga kami dan akan dirindukan," ujarnya.

Green menambahkan kekuatan menyatukan orang adalah inti dari kekhasan kontes ini. Menurutnya, hal itu makin penting di tengah dunia yang kian sulit dan terbelah.

Ia menyatakan semua penyiar memutuskan keikutsertaan setiap tahun. "Kami akan terus berdialog dengan RTÉ dan berharap menyambut mereka kembali ke kontes di masa depan," kata Green.

EBU Dua Kali Ubah Aturan demi Redam Protes

European Broadcasting Union (EBU) selaku penyelenggara telah dua kali berupaya menjawab kekhawatiran penyiar soal keikutsertaan Israel. Pada edisi lalu, EBU mengurangi jumlah suara yang bisa dimasukkan satu individu lewat jalur online atau telepon. Langkah itu diambil menyusul tuduhan Israel melancarkan kampanye tidak proporsional untuk meraup suara publik.

Bulan lalu, EBU mengumumkan penyiar tidak lagi memenuhi syarat menjadi tuan rumah Eurovision jika negaranya terlibat "konflik bersenjata" atau berada dalam "situasi geopolitik sensitif".

Eurovision menghadapi protes di dalam dan luar venue dalam beberapa tahun terakhir terkait keikutsertaan Israel, peserta sejak 1973. Pada 2024, Komisi Eropa melakukan intervensi tidak biasa setelah penyelenggara melarang penonton mengibarkan bendera Uni Eropa di grand final di Swedia. Komisi menyebut keputusan itu "mengejutkan" dan "disayangkan".

Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari penyelenggara Eurovision maupun pemerintah Bulgaria soal dampak pemboikotan terhadap jalannya kontes tahun depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index